Milestone Penelitian Tahun 2018

Seperti 2 tahun sebelumnya, 2016 dan 2017, saya akan berbagi lagi perjalanan menulis publikasi Ilmiah di tahun 2018. Tahun ini saya punya beberapa target menulis beberapa publikasi ilmiah namun tidak semuanya bisa tercapai dan harus menjadi ‘utang’ yang harus dijadikan resolusi pada tahun 2019. Akan tetapi tahun ini, saya membimbing mahasiswa 3 kali lipat lebih banyak dari semester dan tahun sebelumnya, sehingga tenaga dan waktu saya harus saya bagi sebenarnya. Namun memang ternyata, membimbing terlalu banyak dan ingin optimal harus mengorbankan salah satu target, tidak bisa multi tasking karena hasilnya juga tak akan optimal. Harapan saya tahun ini, saya bisa membuat daftar prioritas untuk melakukan bimbingan dan penelitian agar keduanya berjalan beriringan.

Sebelumnya, artikel yang berkaitan:

RESEARCHGATE

Terdapat perbedaan fitur dalam Research Gate sekitar akhir bulan November 2018 yaitu RGScore sudah dihilangkan diganti dengan Total Interest. Saya pernah iseng melihat RG Score bulan November 2018 sekitar 8.40an yang mana kalau dibandingkan nilai RG Score tahun 2017 yang 4,29 ada peningkatan. Total sitasi juga bertambah dari 26 ke 51. Total dibaca 9K di 2017 naik menjadi 24K. Alhamdulillah, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari artikel-artikel yang telah diunggah dalam ResearchGate ini.

Alamat ResearchGate saya di sini.

SCOPUS

Untuk indexing pada Scopus, h-index yang dihasilkan masih sama dengan tahun kemarin yaitu 3, namun jumlah dokumen yang dihasilkan kalau naik dari 9 ke 16 dokumen. Dokumen yang tersitasi menurut indexing dari Scopus ada 12 dokumen pada tahun 2017, sedangkan pada tahun 2018 naik menjadi 25 dokumen yang tersitasi. Alhamdulillah. Semoga bisa menghasilkan artikel internasional kembali sambil belajar nulis.

GOOGLE SCHOLAR

Kalau dibandingkan tahun kemarin 2017, dokumen yang tersitasi menurut indexing dari Google Scholar naik dari 40 ke 75. Sementara untuk h-index yang dihasilkan naik 1 poin dari tahun sebelumnya. Menariknya i10-index di tahun 2017 yang sebelumnya tak ada, di tahun 2018 bertambah 2.

Alamat Google Scholar saya di sini.

SINTA

Tambahan yang baru dari artikel pada tahun 2017 yang belum ada dan ada di tahun ini adalah indexing dari SINTA. Indexing SINTA sendiri mengambil gabungan dari Scopus dan Google Scholar. Di kampus tempat saya bekerja, dosen yang telah memiliki NIDN diwajibkan memiliki akun SINTA ini. Berhubung saya baru dapat NIDN sekitar pertengahan tahun, maka saya baru bisa membuat akun ini pada tahun 2018. Di dalam SINTA akan terdapat informasi peringkat berdasarkan publikasi yang dihasilkan. Dari rekaman SINTA saya menduduki peringkat ke-194 dari 1691 (menurut data pada SINTA/yang telah teregister di SINTA) di tempat saya bekerja. Masih jauh ya? Iya, masih belum asisten ahli juga. Jadi, InsyaAllah tidak ngejer peringkatnya, namun manfaatnya.

Alhamdulillah, apapun pencapaian di tahun 2018 wajib disyukuri. Semoga bisa bermanfaat lebih meluas lagi di tahun 2019 dan tahun-tahun berikutnya. Saya juga mulai melakukan kerjasama penelitian kecil-kecilan yang mencoba untuk lintas disiplin agar lebih mendalam kebermanfaatannya. Saya juga masih belajar menyusun dan membenahi road map penelitian yang mana bayangan saya road map tersebut dapat memengaruhi juga hasil pertimbangan saya untuk membimbing mahasiswa dengan topik sejenis, terarah dan terstruktur. Saya masih belajar menjadi pembimbing yang baik yang tak berhenti belajar dan menerima saran. Semoga semangat terus terjaga, dan semoga niat untuk sekolah lagi semakin kuat di tahun 2019 ini. Bismillah. Semua yang terjadi atas izin Allah.

@baitijannati, Malang, malam gerimis seirama

Sepuluh Hari Berbagi Hati di Akhir Tahun

Alhamdulillah, telah berada di penghujung tahun 2018. Dalam tahun ini alhamdulillah banyak pencapaian, meski tak signifikan, namun alhamdulillah, kami cukup bersyukur atas hari-hari kami di tahun 2018. Alhamdulillah. Di sisi lain, tahun 2018 merupakan tahun yang ‘berat’ untuk Indonesia terkait banyaknya bencana atau musibah yang terjadi dalam waktu berdekatan. Semoga keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah serta korban khusnul khatimah. Aamiin. Semoga hal ini menjadi refleksi kita bersama, baik dari segi analisis ilmiah untuk menanggulangi bencana maupun muhasabah diri kepada Sang Pencipta yang memiliki semua yang ada di bumi dan langit.

Akhir tahun 2018 ini, Continue reading

Selebrasi Lulus Ujian

Topik yang saya angkat pada artikel kali ini terkait dengan selebrasi yang semakin marak di kalangan mahasiswa terutama pasca menghadapi ujian. Topik ini juga menyertakan konklusi dari hasil Q&A diakun Instagram saya kemarin (17/11/2018) yang anggap saja hasil ngobrol di weekend yang ceria tanpa drama 😀

Selebrasi apa sih yang dimaksud?

Continue reading

WEKA: Memilih Fitur

Ok, sambungan dari postingan sebelumnya ya. Sekarang kita ingin mencoba untuk memilih fitur atau atribut yang kita perlukan untuk kita olah ke dalam proses machine learning  selanjutnya. Di WEKA sendiri sebenarnya sudah ada fitur yang bernama Select Attributes untuk menyeleksi atau memilih fitur yang bersesuaian dengan beberapa algoritme yang sudah tersedia di dalam WEKA.

Namun kali ini saya tidak akan bicara banyak terkait dengan fitur Select Attributes yang terdapat di WEKA karena sudah ada di buku “Implementasi Data Mining Menggunakan WEKA” ya. Hehe. 

Ok, langsung saja silakan buka file .arff yang kalian punya dengan cara tekan Explorer pada GUI Chooser WEKA kemudian Open file… > pilih file .arrf > Open

Gambar 1. Pada file .arff yang memiliki 122 fitur atribut, karena yang 1 fitur itu kita sudah set sebagai nominal atau kelas dari data sampeltersebut.

Jika ingin menghilangkan satu fitur tersebut, maka kita tinggal tick di bagian kotak Attributes, dan kemudian klik tombol Remove.

Gambar 2. Remove satu atribut

Permasalahannya adalah bagaimana jika atribut yang ingin kita hilangkan itu puluhan. Apakah harus dicentang satu-satu? Lak ya gempor bin rempong k

Pada area Filter di tab  Preprocess tekan tombol Choose>Filters> Unsupervised>Remove

Gambar 3.  Pilih Remove

Setelah melakukan pilih Remove akan keluar tampilan seperti Gambar 4

Gambar 4. Tampilan Remove telah dipilih

Sekarang klik di area Remove seperti pada Gambar 4, maka akan keluar tampilan seperti Gambar 5. Pada attributeIndices pilih indeks atribut yang ingin dihilangkan. Pada kasus ini, saya mencoba menghilangkan atribut ke-2 sampai ke-7 dengan menuliskan 2-7 pada attributeIndices.

Gambar 5. Pilih indeks atribut yang akan dihilangkan

Setelah memasukkan indeks aribut yang akan dihilangkan, maka tekan OK kemudian Apply! Maka akan hilanglah atribut 2-7 tadi, tinggal atribut ke-8 dan seterusnya. 

Gambar 6. Hasil atribut 2-7 yang telah dihilangkan

Ok, jadi deh. Semoga bermanfaat ya 🙂

@A.1.9.7 Pagi cerah, sebelum bimbingan menyerbu 🙂

WEKA: Load CSV dan Mengubah Tipe Data Atribut

Kali ini postingannya sedikit beda dari sebelum-sebelumnya. Sudah lama tidak posting seserius ini 😀 Sebenarnya tidak serius-serius amat sih cuma bersyukur saja bisa ngoding lagi di tengah kepadatan yang mendera (terutama bimbingan yang padat merayap belakangan ini). Alhamdulillah, hobi ini tersalurkan kembali. Jadi, ini hasil iseng pas utek-utek menyimpan atribut dalam .CSV di WEKA.

Jadi, saya sudah memiliki nilai-nilai numerik yang bentuknya adalah matriks. Matriks tersebut adalah hasil generate dari preprocessing koding yang telah saya lakukan dan saya simpan di .csv (Tak perlu saya jelaskan saya ngoding apa ya). Untuk selanjutnya, agar efisien, saya memikirkan bagaimana cara memindahkannya ke WEKA agar mudah untuk dianalisis, tanpa harus ngoding from scratch. Sebenarnya di buku saya yang berjudul “Implementasi Data Mining Menggunakan Weka” saya sudah sertakan bagaimana convert file .csv ke .arff. Meski tidak diubah ke dalam .arff, Weka juga masih bisa membaca file .csv, namun dengan syarat dan ketentuan berlaku. *Cem promo-promo yang terkadang hanya PHP ya :)) Jangan khawatir untuk syarat yang ini gak bakal bikin kamu berasa diPHPin. Oke, langsung saja ya

  1. Buka Weka, kalau belum ada install ya. Pilih Explorer.
Gambar 1

2. Kemudian pilih Open file. Pilih file .CSV. Kemudian klik Open Oh iya, kalau .CSV kalian tidak memenuhi standar, tidak akan bisa dibuka. Nanti akan ada pop up error dan mau tidak mau harus diperbaiki terlebih dahulu. Pastikan ada header di masing-masing kolom. Pada kasus saya, saya sudah menambahkan header

Gambar 2

3. Setelah terbuka file tersebut, kemudian pilih Choose pada area filter. Kemudian pilih weka > filters > unsupervised > attribute > NumericToNominal

Gambar 3
Gambar 4

4. Karena kolom pertama pada matriks saya menunjukkan sebuah kelas, maka saya harus mengubah aribut numerik kelas ersebut menjadi nominal. Jika sudah, maka pada field sebelah tombol Choose pilih index aribut pada attributeIndices =1

Gambar 5

Jadi seperti Gambar 6 ya.

Gambar 6

5. Langkah terakhir adalah klik Apply.

Gambar 7. Tampilan data sudah dapat diproses di Weka

Ok deh, data sudah siap diproses dengan menggunakan Weka, dilihat dari grafik batang yang telah berwarna hitam pekat 🙂

6. Jika sudah selesai dan ingin menyimpan file,  simpan dengan tombol Save.

Gambar 8. Tombol Save
Gambar 9. Simpan dengan menggunakan tipe file .

Sudah ya, sekian dulu postingan ini. Semoga bermanfaat dan jadi catatan pribadi buat saya sendiri sebenarnya 🙂

@A.1.9 FILKOM UB, Sore selepas hujan deras

Berbeda dan Menerima Perbedaan

Menjadi berbeda membuat saya belajar lebih bagaimana menerima perbedaan. Cukup sering saya memiliki perbedaan pandangan di antara circle yang saya miliki ataupun strangers yang saya temui. Namun acapkali perbedaan tersebut terkadang dipandang sesuatu yang “aneh” sehingga seakan-akan ada kecenderungan untuk berkata your way is not good anyway, just follow my path, listen my voice and do that as well in yours. 

Saya ambil contoh misalnya, seseorang melontarkan pesan tanpa diminta dengan menyatakan “jangan membuat dirimu stress dengan membuka laptop di akhir pekan”. Hal tersebut adalah sebuah saran yang keluar tiba-tiba dengan tidak mengetahui secara pasti keseharian bahkan weekend saya itu ngapain saja 😀 Sebenarnya, membuka laptop tidak harus mengerjakan sesuatu yang membuat stress juga kan?, nonton misalnya (kerjaan suami banget nih). So, the definition about stress and it turns out become a problem is really depending on each.  In case, saya butuh refresh dan me time,  saya akan buka laptop. Misalnya, beberapa dari mereka tidak mengetahui bahwa dengan menulis membuat mood  saya jauh lebih baik, dibanding saya harus pergi shopping atau ngemall. Memang sekali-kali ngemall kalau lagi butuh ada yang dibeli atau lagi ingin makan junk food tertentu #eh. My husband know me so well regarding of this and he support me.  Sebagai cewek memang saya tidak begitu suka shopping. Saya lebih suka diajak jalan melihat pegunungan atau hutan, atau keindahan alam, berkunjung ke rumah teman atau kalau tidak jauh-jauh, ke toko buku cukup membuat saya senang :D. When my husband let me to do everything what I want, then I enjoy code something for couple hours, suami bertanya “gak bosen?”. Tidak sama sekali 😀 Berbeda tak apa kan? Padahal juga ngoding iseng saja (kalau kerja tim, saya tidak suka dipaksa-paksa ngoding untuk dikerjakan saat weekend, urusan kantor usahakan saat weekdays begitu pula dengan notificationnya). Intinya saya ingin weekend melakukan apa yang saya suka, jika ada waktu untuk mengerjakan apa yang saya suka, itu bahagia buat saya. 🙂

Buat sebagian orang bekerja di saat weekend terkadang menjadi sebuah kebutuhan. Meski saya bukan termasuk tim yang sepakat kerja kantor saat weekend, tapi kalau buat sebagian orang penting dilakukan untuk kebaikan dan memberikan kebaikan untuk orang yang lebih banyak, juga kenapa tidak? So, well memandang perbedaan itu sebaiknya bukan dari satu sisi saja, apalagi melihat dengan teropong kita saja. Kurang presisi saya rasa. Selama tidak menentang norma dan juga aturan agama, saya rasa berbeda bukan menjadi momok, justru seharusnya membuka pandangan kita akan sebuah perbedaan itu sendiri. Tidak setuju juga boleh, asal tidak memaksakan pandangan kita terhadap orang lain.

Contoh lain, yang lagi hot, 😀 entah sudah berapa banyak orang yang bertanya kepada saya terkait dengan ikut atau tidaknya seleksi CPNS. Reaksinya pun beragam. Saat ditanya alasaannya,  saya sudah jelaskan alasannya, namun beberapa menyatakan pandangan saya terkesan ‘aneh’. Jika ditanya maka tetap akan saya jawab dan tidak memberikan alasan jika tidak ditanya (as usual). Dari saya kecil ortu tidak pernah memaksakan pilihan ke saya, semuanya diserahkan ke saya. Dari situ saya belajar untuk membuat pilihan berdasarkan apa yang saya lihat, temui dan pelajari dari pengalaman orang lain. Suara hati dan juga melibatkan Tuhan sangat penting dalam memutuskan pilihan. Ketika pilihan berbeda, tak seharusnya kan kita menjustifikasi orang lain bahwa pilihan kita lebih baik dari yang lain? Karena Tuhan jauh lebih tau apa yang terbaik buat kita.

Indonesia sudah terlahir dengan budaya yang berbeda, pun seharusnya menerima perbedaan menjadi bagian dari kita menerima reaksi yang berbeda. Sebentar lagi juga pilihan Presiden, semoga perbedaan pilihan di antara teman tidak merusak persahabatan karena perbedaan pendapat itu sendiri. Seandainya pikiran lebih terbuka menerima perbedaan, tak seharusnya perseteruan  tentang perbedaan di sosial media terjadi. Berbeda pendapat kemudian berdebat yang salah satu merasa lebih benar dan baik dari yang lain tidak menimbulkan manfaat apa-apa, selain memperkeruh keadaan, apalagi kabar yang diperdebatkan kabar hoax. Jika berbeda itu tidak dapat dipungkiri, namun masih bisa menerima perbedaan, semoga muncullah rasa damai yang bersemi di negeri ini. ❤

Ketika kita tidak tahu benar tentang berita atau keseharian orang lain, janganlah mudah menjustifikasi dengan cepat. Riset boleh tentang berita negeri ini untuk lebih baik tapi kepo dengan urusan pribadi orang juga tak terlalu baik, apalagi tidak kenal-kenal amat atau malah jarang ketemu dan berkomunikasi. Selamat berakhir pekan 🙂

@baitti janati, akhir pekan cerah