Yuita A. Sari

“If you want to be a writer, you must do two things : read a lot and write a lot. There's no way around these two things that I'm aware of, no shortcut.” ― Stephen King

Scientific Meeting [Part 3] : Jalan-Jalan

Leave a comment

29 Maret 2014

Setelah hectic day  di hari pertama, akhirnya ada waktu tersendiri buat jalan-jalan. Selamat pagi, dan saatnya membuka jendela untuk melihat sinar mentari yang cantik di lantai 5 Hotel Tree. Saatnya untuk jalan-jalan hari ini. Yey! Sebelum jalan-jalan sekalian packing dan check out dari kamar hotel. Setelah beres-beres dan sarapan, kami berangkat dengan 2 bus menuju ke tempat-tempat wisata yang telah diatur sedemikian rupa oleh panitia. Kita tinggal tut wuri😀

DSC01681

Semburat sinar mentari yang terlihat melalui jendela kamar

Sarapan @Hotel Tree

Sarapan bersama @Hotel Tree (UI, ITS, UNJ, UNHAS)

Lokasi 1 : Pantai Losari Makassar

Kita sampai di Pantai Losari sekitar pukul 09:00 an WITA, sudah cukup panas, namun tetap saja semua bak anak kecil, langsung lari-lari dan bergaya di depan lensa kamera untuk mengabadikan momen [yang kebanyakan] baru pertama kali datang ke Makassar.

 

Pantai Losari11Foto bersama delegasi dari ITS [tanpa Dilla -Teknik Sipil 2012]😀

Delegasi ITS Pantai Losari

Bersama delegasi dari ITS dan dari UPI @Pantai Losari

di Pantai Losari

 

Di depan Pantai Losari bersama delegasi dari UNHAS dan UPI

Makassar Delegasi ITS

Halo Makassar ! Salam sapa dari ITS😀

 

Lokasi 2 : Benteng Fort Rotterdam

Di lokasi 2 ini kami tidak lama, hanya sebentar, karena cuaca yang sangat panas dan hot-hot pop untuk mengelilingi kawasan benteng.

Fort Rotterdam bareng2

Di depan benteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam

Lokasi 3 : ke Pusat Oleh-oleh di Daerah Sumbo Opu

Pusat oleh-oleh yang berada di daerah ini sangat terkenal, dan harganya juga relatif murah dibandingkan tempat yang lain. Disana ada macam-macam oleh khas Makassar, mulai pakaian hingga makanan. *bingung milih* karena dikasih waktu cuma 10 menit, tapi selesai juga😀

Lokasi 4 : Kawasan Taman Nasional Bantimurung

Kawasan ini ditempuh sekitar kurang lebih 1 jam dari Lokasi ke-3, yang jelas saya sampek ketiduran😀. Kawasan ini berupa gunung batu yang ada air terjun dan goanya. Area wisata ini cukup luas dan mempunyai udara yang sangat sejuk dibandingkan dengan Lokasi pertama dan lokasi kedua. Disini saya melihat banyak orang berenang bebas diarea air yang cukup tenang, dan juga ada yang mandi langsung berseluncur dari jatuhnya air terjun.Disini kami mempunyai waktu yang agak lama, karena ada waktu untuk sholat dan makan siang bersama. Setelah makan siang kami jalan-jalan bersama menuju Goa Batu. Yang jelas seru abis!😀😀😀 Kami jalan kaki dari air terjun ke Goa Batu sekitar 800 meter, dan jika bolak-nalik bisa dihitung 2 x 800 meter = 1600 meter, yang artinya hampir 1,6 km kita berjalan kaki naik turun. Capeknya ini baru kerasa saat di penginapan😀

Bantimurung

 Kawasan air terjun

@Goa Batu

di dalam Goa Batu, tempat ini sangat gelap, harus dengan senter kalau jalan

Lokasi 5 : Kembali ke Penginapan di Depsos

Setelah seharian lelah jalan-jalan akhirnya kami sampai juga di penginapan Depsos di daerah Perintis. Seharusnya dari sini tugas panitia SM III telah usai, namun kami mendapatkan kejutan yang luar biasa bahwa penginapan kami yang extend telah dilunasi panitia (padahal harusnya untuk urusan extend  hari penginapan itu adalah tanggungan kami). Terharu iya,mengingat sepertinya kami masih tidak rela meninggalkan Makassar dengan cepat, karena masih banyak yang belum kita ketahui. Kali ini saya benar-benar tersentuh dengan komposisi kerjasama yang telah dilakukan panitia kepada kami, para pendatang. Subhanallah, kerja tim yang luar biasa. Seumur-umur saya ikut organisasi dan kepanitiaan, ini yang paling wow melayani tamu, ibarat keluarga sendiri, sehingga kami terasa begitu dekat satu sama lain, padahal kalau dipikir-pikir kita baru bertemu mungkin sejam dua jam. Tapi nuansa kekeluargaan itu yang membawa tawa lepas kami sebagai kehangatan tulus dari keluarga Paguyuban Beasiswa Unggulan DIKTI Nasional ini. Berbagai macam latar kebudayaan, bahasa, dan mungkin pemikiran bisa membedakan kami, namun tidak untuk tujuan kami. Saya membayangkan andai saja para pejabat tinggi negeri ini mempunyai mekanisme dan etos kerja yang jujur dan bertanggungjawab layaknya panitia dari Universitas Hasanuddin ini, maka Indonesia will be brighter. Sebagai tamu, kami sepakat tidak begitu saja suka dengan yang namanya “gratisan” kalau itu memang memberatkan panitia. Disini saya melihat antara tuan rumah dan tamu yang begitu menghargai satu sama lain. Subhanallah.. saya bersyukur datang jauh-jauh ke Makassar untuk melihat fenomena sosial yang membuat saya salut dan terharu. Para panitia merasa bersalah kepada kami ketika mereka tidak bisa memberi maksimal kepada kami sebagai tamu, dan menurut saya itu berlebihan, karena apa yang kita dapatkan dan rasakan jauh lebih dari cukup. Tidak saya saja yang memiliki perasaan itu, namun juga teman-teman yang lain. Selain loyalitas panitia yang tinggi, saya cukup salut dengan para peserta PBU Nasional yang berniat baik untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Pembicaraan sangat menarik ketika membahas suatu penelitian yang ternyata antara ilmu satu dan ilmu yang lain berkaitan, dan dapat menghasilkan output yang cukup bagus ketika bisa terimplementasikan.

Malam itu delegasi dari ITS dan beberapa panitia penasaran dengan Coto Makassar. Orang Makassar bilang, belum menginjakkan bumi Makassar kalau belum mencoba Coto Makassar. Akhirnya kami mencoba Coto Makassar sebentar di kawasan dekat penginapan. Coto Makassar ini cukup unik rasanya (gimana ya ngomongnya?😀 ) pokonya enak deh. Secara default rasanya terlalu light menurut lidah saya, namun perlu iuji coba menambahkan beberapa bumbu seperti garam dan juga sambal, tak lupa jeruk nipis (disini khas-nya kalau makan pakek jeruk nipis, mungkin menghilangkan eneg-nya). Coto Makassar ini disediakan dengan mangkok kecil, sekilas mirip mangkok Soto kudus yang juga kecil. Walaupun mini seperti ini, namun bisa membuat saya kenyang sampai gak ikut pesta durian malam-malam dengan teman-teman yang lain ( kebetulan juga tidak suka durian, he he he). Teman makan Coto Makassar ini adalah ketupat, dan cara makannya cukup unik, yaitu dicungkil dulu itu ketupatnya kmudian makan kuahnya. Namun beberapa teman tetep numplekin semua ketupat dalam kuah (mungkin memang lebih nikmat gitu kali ya)😀

Coto MakassarCoto Makassar

IMG_20140329_202434_Fotor

Makan malam bersama dengan menu Coto Makassar

Oke, sekian dulu informasi di Part 3, yang merupakan aktifitas seharian. Capai. Istirahat dulu😀 , sampai jumpa di Part terakhir ya (yaitu Part 4 )😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s