Yuita A. Sari

“If you want to be a writer, you must do two things : read a lot and write a lot. There's no way around these two things that I'm aware of, no shortcut.” ― Stephen King

Kesan Pertama di Warsawa, Polandia

8 Comments

Tepat 40 hari  berada di Warsawa, Polandia dan tepat dengan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1436 H. Saya anggap satu bulan setengah disini sebagai kesan awal, karena masih ada sekitar 8-9 bulan lagi berada di kota ini, dan mungkin juga belahan negara lain di benua Eropa. Hari ini cuaca dingin sekali, lebih dingin dari sebelum-sebelumnya (sekitar -2 derajat celcius moreless), padahal juga masih musim gugur :D Welcome to the east Europe climate 😀 Berhubung sepertinya sudah lama tidak menulis, kali ini saya akan mengisinya dengan bahan-bahan yang biasanya ditanyakan teman-teman ketika bersua dalam dunia maya maupun nyata😀, Well mungkin saya akan buat beberapa poin, sementara masih bicara mengenai kultur lingkungan, pendidikan, cuaca, dan transportasi, serta besarnya biaya hidup yang saya alami sejauh ini.

Kultur Lingkungan

Sempat mengalami yang namanya culture shock, meskipun sudah dapat kabar, nasihat, dan training sebelumnya. Tapi apalah sebuah teori tanpa praktek, dan apalah praktek tanpa teori *jadi mbulet😀 Bicara soal kultur sebenarnya cakupannya juga luas, namun demikian saya akan mengambil yang umum saja terkait kultur yang sejauh ini saya rasakan.

  • Ramah. Ada beberapa cerita. Awal-awal kuliah, suatu waktu menunggu kelas dimulai, semua sibuk mainan HP, saya belum paham modelnya mereka bagaimana, jadi kalau saya ajak ngobrol khawatir ganggu, akhirnya saya pikir orang-orangnya agak cuek sama orang asing. Kemudian saya pulang ke dorm, kebetulan saya juga masih “anggota baru” di dorm, saat itu saya masak di dapur, kemudian ada teman juga masuk ke dapur kemudian say Hi, dan langsung ngajak kenalan. Sejak saat itu pikiran saya jadi berubah, mereka yang cuek mungkin sebagian, dan sebagian yang lain tidak. Ternyata setelah beberapa hari berselang, teman-teman di dorm apalagi yang sekoridor selalu sapa-menyapa dan kadang mengobrol sedikit. Kita agak kesusahan komunikasi karena mostly mereka menggunakan bahasa lokal dan sedikit bicara Inggris. Kalau ramah kaya gini miriplah sama orang Indonesia😀
  • Penolong. Mereka akan mencoba menolong kita sebisa mereka, mereka blak-blakan, kalau lagi sibuk bilang sibuk, kalau gak bisa bilang gak bisa. Apa adanya. Saya sudah beberapa kali bertanya orang Polish posisi suatu tempat kalau saya bingung mencarinya, mereka membantu sampai jelas, kadang ada yang coba mengantar meskipun gak sampai tujuan.
  • Tertib dan disiplin. Kalau ini sepertinya sudah membudaya😀 Disini rata-rata orang-orang jalannya cepat sekali, turun dari transportasi umum jalannya kayak dikejar hantu😀.  Konon katanya jalan cepat itu untuk mengejar jadwal transportasi dan menghidari dingin. Pernah waktu itu saya lari ngejar bus, eh tiba-tiba ada kakek2 yang mendahuli saya dan larinya lebih kenceng😀. Jalan saya juga termasuk lambat disini, kadang saya percepat sedikit juga jadi ngos-ngosan. Biasa naik motor, sekarang kemana-mana jalan, bersyukur juga karena bisa senam jantung secara tidak langsung😀 Jadi ingat suatu perumpamaan di Jepang (kalau saya ga salah ingat), “Untuk jadi sukses, berjalanlah dua kali lebih cepat dari jalanmu sekarang”. Yang jalannya lambreta sekarang diakselerasi ya jadinya😀
  • Bersih. Sehabis makan di tempat makan, piring-piring atau peralatan makan kita harus dirapikan dan ditaruh ke tempat piring/gelas kotor sendiri. Begitu pula dengan yang makanan siap saji seperti di mall, harus dibuang ke tempatnya sendiri. Tidak ada pelayan yang harus membersihkan meja tempat kita makan. Intinya kalau awalnya meja itu bersih, sebelum pulang harus bersih juga. Enak juga kaya gini jadi gak jorok😀
  • PartyMenjamu tamu, teman baru, menghargai tamu akan disambut dengan party. Begitulah memang budayanya. Sudah sering dapat undangan party atau sekedar ketemuan untuk minum dan ngobrol. Disini alkhohol berfungsi untuk menghangatkan tubuh, meskipun demikian, dengan alasan agama, saya tidak pernah akan mencicipinya (semoga Allah selalu menjaga saya). Tidak perlu  secara frontal untuk menolak ajakan, karena niatnya mereka baik, menghargai kita sebagai bentuk budanya mereka. Kita hargai juga dengan cara menolak yang baik, setidaknya itu sudah cukup. Saya selalu bilang maaf saya gak minum dan gak makan daging babi untuk undangan party dan semacamnya. Buat saya, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Mereka juga tidak memaksa kita mengikuti budaya mereka, teman-teman saya kalau di dorm mau ada party, bilang minta maaf ke saya misalnya kalau tidur malam saya terganggu *sekarang kalau saya capek ya tidur saja, sudah kebal, lagipula partynya gak berisik-berisik amat :D . Kita saling menghargai saja, soal membolak-balikkan hati itu urusanNya.
  • Ciuman di tempat umum. Ini sudah sangat biasa sekali, di dalam bus, di taman, di jalan. Bukannya sengaja lihat, tapi terlihat tidak sengaja. Saya juga sempat melihat fenomena lesbian dan homo di tempat umum meskipun baru sekali. Sekali lagi itu urusan mereka😀 Pernah ada salah satu teman yang bertanya, apakah benar kalau di Indonesia ciuman ditempat umum itu akan dibunuh?😀

Perbedaan kultur itu membuat kita bersikap lebih bijak dalam menghargai perbedaan. Saya disini merasa aman diantara perbedaan, meskipun minoritas, tapi kepercayaan saya belum pernah terusik atau pun terganggu. Teman-teman disini juga banyak dari berbagai negara dengan ragam kultur yang berbeda. Spanyol, Perancis, Portugal, Hungaria, Korea, Peru, India, Nepal, Ukraina, Rusia, Turki, Mesir, Algeria, dan masih banyak lagi dari belahan negara lain yang selama ini saya kenal. Jangankan biacra soal kultur yang lebih dalam, kadang untuk cara menyapa dan berkenalan dengan teman itu sudah berbeda. Pernah waktu itu teman dari Spanyol cowok, dia awalnya tanya karena saya-nya flat-flat aja gitu ya, di Indonesia biasa kenalan gimana, soalnya di tempat mereka cipika cipiki. Setelah tahu hal tersebut, kemudian suatu waktu bersama rombongan teman-teman jalan bersama, dan saat akan berpisah mereka saling berpelukan dan cipika cipiki, cewek-cowok, tiba giliran say good bye dengan saya, mereka sadar dan gak melakukan hal serupa sama saya.😀 Unik-unik dah😀

Kadang mereka juga tanya kepada saya, karena mungkin saya paling berbeda dengan apa yang saya kenakan. Mereka bertanya, yang menutup kepalamu itu namanya apa? Mengapa kamu pakai itu? Seharian kamu pakai atau gimana? Saat kapan melepasnya? Rambutmu seberapa panjang? Saya tahu bahwa ada muslim, tapi tidak memakai pakaian yang seperti kamu kenakan, itu kenapa? Mengapa gak makan babi? Mengapa gak ke party? Mengapa gak minum alkohol? Saya menjawab semampu saya, dengan tidak menyudutkan berbagai macam pihak. Kepercayaan saya, itu yang saya yakini🙂 Sementara itu ya soal kultur lingkungan, kalau ada tambahan akan diupdate 🙂

Pendidikan

Seru bicara hal yang satu ini, karena ini yang menurut saya lumayan berbeda. Terasa berat di awal, baik dari segi materi maupun modelnya. Saya mengambil 5 mata kuliah dengan jumlah kredit 24 ECTS, 3 mata kuliah terkait IT dan 2 yang lain tentang humanistic. Mata kuliah yang terkait IT rata-rata memiliki model belajar lecture dan lab. Lecture  isinya penjelasan materi kuliah saja, mulai dari dasar, dan rumus-rumus gitu, dan lab adalah tempat mengerjakan project atau tugas, dan dalam lab  itu pasti ada ngoding. Itu PASTI. Disini ngoding kemampuan dasar yang wajib dimiliki, dan teori dasar yang harus dikuasai.

Satu mata kuliah bisa terdiri dari 6 jam seminggu dan terbagi dalam lecture dan lab. Kalau saya ambil 3 mata kuliah bisa dikalikan sendiri,dan belum 2 mata kuliah humanistic yang saya ambil. Weekdays adalah hari sibuk *termasuk sibuk tidur kalau kedinginan*😀 Dosen datang tepat waktu, dan setiap lecture  atau lab mata kuliah selalu ada istirahat 15 menit. Serius, ini ngaruh banget untuk menjaga keseimbangan otak yang lelah. Setelah istirahat 15 menit otak bisa lebih sedikit fresh. Pengalaman saya pribadi dan sifatnya subjektif😀

Terus terang ini saya masih mencoba untuk mengejar ketertinggalan, karena saya dihadapkan dan dicemplungkan diantara teman-teman yang keren. Saya masih loading, mereka sudah 100% completed, dan itu membuat saya jadi complicated #halah😀 Biasanya dulu kalau ngerjakan tugas atau ngoding project asal jadi dulu, yang penting keluar hasil dan hasilnya seusai yang diusulkan. Tapi disini harapannya ternyata tidak sekedar jadi, tapi lebih kepada prosesnya, dan terkadang hal-hal dasar sampai ditanyakan. Dan if you know, jadinya berasa pertanyaan dasar itu pertanyaan sulit.  Salah satu project dari satu mata kuliah disarankan berkelompok 2 orang, saya satu tim dengan teman dari negara bagian Amerika Selatan. Dia programmer advance, dan ketika kerja kelompok sama dia, berasa kemampuan ngoding dan pemahaman saya belum seberapa. Semua yang dia kerjakan well documented, bahkan untuk hitungan manual. Rajinnya mengalahkan kerajinan cewek pada umumnya, padahal dia cowok. Paham konsepnya dulu, baru ngoding, itu kuncinya. Dan memahami konsep gak hanya bisa memakai library doang. Saat itu 2 proses dari project kami bisa kukerjakan semalam jadi, tapi kata teman saya esensinya bukan ‘jadi’ nya tapi kita harus dig more gimana proses matematis di dalamnya, meskipun kita hanya menggunakan library . Pada kenyataannya 2 minggu kita baru paham konsepnya, berat karena belum terbiasa.  Okelah, sekarang belajar..belajar..dan belajar. Jangan pernah cepat merasa puas. *note to myself*

Cuma sekedar informasi di kelas IT mata kuliah pertama cewek 2 orang aja, mata kuliah kedua cewek dua orang, mata kuliah ketiga ceweknya dua orang, di 2 kelas humanistic mata kuliah pertama cewek 3 orang, mata kuliah kedua daku saja yang cewek. Sisanya laki-laki dan jumlah satu kelas moreless 20 orang. Tidak ada perbedaan gender, belajar ya belajar, ngoding ya ngodingpunya tanggung jawab yang sama.

Cuaca

Bicara soal cuaca, ini yang membuat adaptasi terus menerus. Saat pertama datang masih musim panas, namun menurut saya sudah dingin😀. Disini dingin dan kering, memiliki kelembapan yang rendah, sehingga tidak perlu membungkus keripik atau kerupuk, karena tidak pernah melempem *sudah dicoba*. Saking keringnya kulit saya pun ikutan kering padahal juga sudah pakai pelembab😀 Dua tahun di Surabaya yang panasnya cetar kenak suhu seperti ini juga lumayan syok dan butuh adaptasi. Selama ini kalau saya terlalu dingin, jadi tidak konsen belajar atau mengerjakan tugas, alhasil pakai selimut dan kemudian perlahan terlelap dalam lautan mimpi-mimpi indah #haiyah😀

DSC02262_Fotor_Collage

Saat pertama kali datang masih merasakan semingguan musim panas (summer) sampai sekitar tanggal 21-22 September. Suhu masih sekitar 13 sampai 7 derajat celcius. Pemandangan ini diambil di sekitar dorm dan yang pojok kanan atas adalah pemandangan dekat bus station yang biasa saya datangi kalau pulang dari kampus menuju ke dorm. Suasana di sekitar dorm sangat nyaman, so peaceful🙂

autumn

Saat ini sudah masuk musim gugur dan suhunya saat ini sudah mencapai hampir -3 derajat celcius. Di musim ini cuaca tak menentu, kadang agak panas, kadang berkabut, dan kadang hujan, serta kadang berangin. Saat musim gugur, sejauh ini suhu berkisar di angka 10 derajat celcius kurang lebih. Pemandangan ini diambil disekitar dorm.

Transportasi

Transportasi umum dalam kota terdiri dari bus, tram, metro (subway), dan taksi. Dari keseluruhan transportasi umum yang ada, yang belum saya coba hanyalah taksi😀. Kalau di Surabaya biasanya lebih milih taksi daripada bus untuk menuju ke Bungurasih dari Sukolilo. Tapi kalau sistem transportasinya seperti ini, saya lebih milih naik bus😀. Well, disini saya menggunakan kartu langganan transportasi 3 bulan sekitar 70 euro (harga full), kalau punya kartu pelajar bisa dapat harga setengahnya, luar binasa😀 . Dengan mempunyai kartu tersebut, kita dapat menggunakan bus, tram, dan metro sesuka kita, kapanpun, dan sejauh apapun, selama masih dalam zona yang sudah ditentukan. Enak banget. Transportasi di Polandia termasuk murah dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang lain. Semua transportasi disini bersih dan bebas asap rokok, tepat waktu (bahkan lebih cepat dari jadwal), dan semua jadwal keberangkatan bisa diakses dengan menggunakan aplikasi di Android, namanya Jakjodade. Jika memang tidak memiliki OS Android, jadwal keberangkatan juga telah disediakan di setiap papan pemberhentian. Jadi semuanya bisa teratasi dengan baik, InsyaAllah.

DSC02268_Fotor_Collage

Dari foto ini, belum sempat foto transportasi metro.

Biaya Hidup

Saya gak menyangka sebelumnya kalau ada belahan dari negara Eropa yang biaya hidupnya murah, ya disini ini. Bersyukur selalu karena dibalik sebagian kata orang yang hanya Polandia, ternyata tersimpan rejeki saya yang lain, karena bisa untuk nabung dan sisanya jalan-jalan keliling Eropa (jika ada waktu dan kesempatan nanti😀 ). Disini 500 Euro sebulan sudah hidup enak, InsyaAllah🙂 Itu udah termasuk sewa dorm, transportasi, telepon, dan kebutuhan sehari-hari. Termasuk juga  beli kebutuhan makanan di toko Asia yang harganya 2 sampai 4 kali lipat lebih mahal😀 (seperti beras).  700-800 Euro itu sudah termasuk hedon yang sering makan diluar atau sekedar jalan-jalan dan nonton.  Itu pun kadang makan diluar kalau pelajar ada harga diskonan juga😀, atau kadang ada diskon kuponan😀 Tapi itu belum termasuk kalau beli keperluan musim dingin , seperti jaket atau sepatu😀 Katakanlah sekitar moreless 200 Euro untuk barang baru (bukan second hand) atau beli baju dan lain-lain ~ jadi ingat belum persiapan untuk menghadapi musim dingin, tapi malah sudah pesan tiket untuk liburan musim dingin, hihihi~ . Eh anyway jangan dikonversi ke rupiah ya, bisa mabok nanti seperti awal-awal saya kesini dulu, maklum baru pertama ke Eropa jadi ketahan mau beli apa-apa karena mahalnya ketika dikonversi ke rupiah😀 Konversinya langsung ke Euro, bandingin sama nilai tukar Euro. Pada dasarnya biaya hidup itu tergantung dari gaya hidup. Kalau yang makan-nya gak banyak-banyak amat atau jarang ngemil, 300 euro sebulan itu udah yang kece abis hematnya, tapi bisa hidup disini dengan uang segitu *pasang muka serius*😀  Murah kan? Murah, wong beasiswanya cukup banget😀 Alhamdulillah🙂

Yak sekian dulu ya ceritanya, kalau ada hal-hal lain lagi yang perlu diupdate, nanti saya akan update 😀 Kesan saya berada di Warsawa sejauh ini tempatnya nyaman dan aman buat saya. Sementara ini masih betah dan semoga bisa tetap survive😀 Oke see you!

8 thoughts on “Kesan Pertama di Warsawa, Polandia

  1. i love this part –> “Saya menjawab semampu saya, dengan tidak menyudutkan berbagai macam pihak. Kepercayaan saya, itu yang saya yakini”

    and this one –> “Saya masing loading, mereka sudah 100% completed, dan itu membuat saya jadi complicated”

    wakakakaaa

  2. weh, diguyu i.. ~,~

  3. mantap sar sar share nyaa… :)… Keep bloging

  4. @azmi : thanks mi udah mampir…😀 ditunggu blogging-nya dari kamu juga😀

  5. Oh ya mbak, minta saran dan masukan dong sebelum ke Poland?
    soalnya beasiswa nya cuma sekitar 300 euro, dan kemungkinan di tempatkan di Poznan?

  6. @Yanza. Salam kenal ya sebelumnya🙂
    Beberapa waktu lalu saya sempat posting juga mengenai biaya hidup di Polandia
    Kurang lebih bisa dibaca di artikel saya disini –> https://arumsha.wordpress.com/2015/06/21/biaya-hidup-di-polandia/
    Secara umum sepertinya kalau untuk ukuran mahasiswa kemungkinan cukup ya Yanza. Bahkan, dulu pernah ada temen yang sebulan bisa hidup 150 EUR di Polandia🙂

  7. Permisi kak kalo boleh tau ini beasiswa apa ya? Beasiswa untuk S2 kah? Terimakasih🙂

  8. @Aliya Rahma Beasiswa Master Exchange dari Erasmus Mundus mbak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s