Yuita A. Sari

“If you want to be a writer, you must do two things : read a lot and write a lot. There's no way around these two things that I'm aware of, no shortcut.” ― Stephen King

Sawang Sinawang (Saling Memandang)

4 Comments

Sawang sinawang begitulah pepatah Jawa yang  familiar didengar orang-orang Jawa pada khususnya. Artinya saling memandang, memandang kehidupan orang lain dan kehidupan kita. Orang cenderung membandingkan antara satu dengan yang lainnya, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dibandingkan, karena semua sudah ada pada garis rejeki masing-masing.  Masing-masing punya potensi dan kompetensi yang berbeda, jadi lebih baik saling menghargai kekurangan, dan mengakui kelebihan orang lain. Bahkan sebenarnya tidak ada kekurangan kalau semuanya bisa diperbaiki, yang biasa disampaikan lewat kritikan. Sesakit apapun kritikan itu tidak apa-apanya, kalau bisa membuat hidup kita lebih baik. Saya jadi ingat salah satu kutipan “lihatlah keatas untuk meraih impian, dan lihatlah ke bawah untuk selalu mensyukuri nikmat yang ada saat ini”. Tak sedikitpun ada yang pantas untuk disombongkan untuk sebuah kesuksesan, disyukuri sih iya😀 dan cara untuk bersyukur pun akan menimbulkan persepsi yang berbeda, jadi sepertinya lebih baik kita perlu menanyakan diri kita sendiri, niat kita seperti apa. Karena hanya dengan niat yang baik, jalan perjuangan akan barokah, InsyaAllah.

Sebenarnya dengan adanya sawang sinawang tersebut seharusnya membuat kita tetap semangat, apapun keadaan kita saat itu. Saya yakin masih banyak hal yang bisa disyukuri. Contoh hal yang paling sederhana adalah kesehatan, sehingga kita masih bisa bernafas sampai detik ini, keluarga yang melindungi kita, dan teman-teman yang menyayangi kita. Masih ada orang laing yang tidak seberuntung kita, jadi pikiran harus diubah ke hal-hal positif. Ketika berada di lingkungan sosial, kita tidak akan lepas dari yang namanya dirasani orang lain, baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Entah itu hal baik atau buruk. Yang jelas bukan urusan kita dan tak perlu memikirkan orang lain yang meragukan  kita, yang membuat kita hilang arah dan tujuan kita yang sebenarnya. Sepertinya menunjukkan hal-hal positif dari kita dan terus berjalan atau berlari ke depan itu lebih baik daripada menghakimi orang lain hanya dari satu sudut pandang saja.

Berhubung saya hobi menulis dan membaca blog, saya terkadang lebih bisa merasakan karakter seseorang melalui tulisannya. Ini hanya sekedar pandangan subjektif saya saja😀 Kapan hari sempat singgah dan membaca blog Alyssa Soebandono , pasti sudah banyak yang tau siapa dia, Icha (panggilan Alyssa) adalah salah satu artis Indonesia yang cantik dan mampu menyelesaikan jenjang S2nya dengan baik.  Saya tertarik dengan satu paragraf di salah satu postingannya yang berjudul “Finally!”. Berikut isinya, saya hanya kopas saja.

Satu hal yang saya dapat dari ini semua.. Dimanapun kita menuntut ilmu, percayalah pasti akan ada suatu hal positif yang akan kita dapatkan. Ketika orang-orang meremehkan tempat kita belajar, atau menggampangkan semuanya, buktikannlah dengan prestasi yang hebat. Jadikanlah diri kita sebagai seseorang yang bisa mematahkan itu semua. Kita harus membuat diri kita bangga mendapatkan “hadiah” yang dikarenakan hasil kerja keras kita sendiri. Karena yang terpenting itu tidak hanya sekedar dimana kita menuntut ilmu, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu semua.. Yaitu bagaimana kita menerapkan dan menggunakan ilmu yang sudah didapat agar berguna untuk masyarakat. Semua tidak berhenti disitu saja. Tetapi justru, sesuatu yang baru telah menunggu kita untuk melakukan suatu gerakan yang positif. Percayalah, sekecil apapun hal positif yang kita lakukan, akan lebih bermakna dibandingkan tidak melakukan apapun.

Dari paragraf tersebut kita dapat menarik kesimpulan, tak perlu meragukan kemampuan diri sendiri, namun kita jangan terlalu underestimate sama kemampuan orang lain, tapi jangan terlalu overestimate juga. Saya jadi ingat beberapa percakapan yang kerap timbul ketika ada calon mahasiswa yang bingung untuk memilih jurusan apa dan mau kuliah dimana. Umumnya cenderung berbondong-bondong masuk jurusan yang saat itu lagi ngetrend di PT yang paling bagus. Ada beberapa yang terkadang minta pendapat, terkait prospek kerja ke depan dan lain sebagainya. Saya bilang semua jurusan bagus, tergantung passion dan kemampuannya dimana. Sama seperti Icha, mau dimana kuliahnya itu tetap tergantung pada yang menjalaninya. Saya terkadang agak bingung sama orang yang terlalu meremehkan jurusan yang tidak populer saat itu. Maaf, menurut saya, sukses bukan untuk orang yang kuliah di kedokteran saja, atau kuliah di teknik saja, atau kuliah di ekonomi saja. Semua jurusan, baik itu sejarah, perikanan, geografi, seni atu budaya, dsb,  semua punya prospek yang menjajikan. Tergantung cara bergerak dan tingkat kreatifitas dari orang tersebut. Harapan harus dibentangkan setinggi-tingginya memang saya setuju, namun misalkan kalau gagal, tak usah terlalu gengsi memaksakan diri untuk masuk di jurusan yang dibilang ngetrend sementara minatnya tidak disana. Saya rasa kegiatan seperti Kelas Inspirasi bisa menjadi wadah yang sangat tepat untuk mengenalkan profesi kepada anak-anak SD sejak dini. Buat yang sudah sukses, jangan lupa untuk berbagi dengan Kelas Inspirasi ya, pilih Kelas Inspirasi Nganjuk (sedikit promosi boleh lah ya :D) .

Pun ketika kita sudah sukses kita tak perlu terlalu jumawa. Boleh membanggakan almamater, tapi tidak perlu untuk disombongkan kamu dari lulusan atau kuliah dimana. Yang paling penting kontribusi apa yang sudah kamu berikan selama kamu berada di almamater kamu dan pencapaian apa saja yang sudah kamu raih. Perhatikan diri kita baik-baik dulu, sebelum berkomentar apapun. Sudahkah hal-hal tersebut diperhatikan ketika akan jumawa?  Yang benar-benar harus ditekankan bahwa sepintar apapun kamu, you will be nothing without good behaviour. Allah Maha Besar, semua yang kita jumawakan itu milikNya, kapan saja Dia bisa mengambil kalau Dia menginginkannya. Kalau kata om Bob Sadino, kita harus mengosongkan gelas setiap kali bertemu orang-orang baru, jika tidak kosong atau kalau sudah penuh akan jadi meluap dan tidak bisa menerima pemikiran orang lain. Being open minded person. Yes, it’s supposed to be. Apalagi kita berada di lingkungan demokratis, jadi menghargai pendapat itu hal yang perlu diperhatikan.

Saya yakin menulis seperti ini pun tetap ada pro dan kontra di sana sini, mengingat setiap orang punya pandangan yang berbeda. It’s ok. Jadi, misalkan ada komentar, komentar yang membangun sepertinya lebih baik, dibandingkan mengajak debat kusir🙂  So, feel free to comment yak!

See you!

PS : ” Bisa jadi orang yang meremehkanmu dulu, mengikuti jejakmu saat ini. Tetap isi pikiran dengan hal-hal positif!

4 thoughts on “Sawang Sinawang (Saling Memandang)

  1. @afivwae thanks mas telah berkunjung😀

  2. @adibriza thanks sudah berkunjung..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s