Yuita A. Sari

“If you want to be a writer, you must do two things : read a lot and write a lot. There's no way around these two things that I'm aware of, no shortcut.” ― Stephen King

Kamu Kuliah atau Jalan-Jalan?

8 Comments

Selain pertanyaan “kenapa sih Sar memilih Polandia?“, pertanyaan yang ada dijudul postingan ini tak kalah seringnya menghinggapi inbox saya, ataupun hanya celetukan di salah satu postingan foto jalan-jalan saya atau status facebook saya selama saya travelling mengelilingi negara-negara area Schengen di Eropa. Kalau teman-teman ber-mutual friend dengan para penerima beasiswa Erasmus+, mungkin isi timeline-nya kurang lebih akan sama, foto jalan-jalan keliling Eropa😀 tapi tidak menutup kemungkinan juga status dan foto teman-teman yang sibuk di kampus dengan sederet capaian prestasi yang diraihnya, terutama untuk mahasiswa Erasmus+ yang mengambil full degree.

Kuliah atau jalan-jalan ya? Saya rasa bagi orang yang berada di dunia baru pasti merasakan apa yang namanya penasaran. Nah, anggap saja travelling saya yang baru di Eropa itu menjawab penasaran dan menjadi bagian dari bentuk belajar kehidupan untuk melihat sisi dunia yang lain. Sebenarnya dalam travelling sendiri juga banyak sekali yang bisa dipelajari. contohnya :

  • Disiplin dengan waktu. Baik itu waktu keberangkatan (telat barang dua detik saja mungkin sudah bisa mengacaukan jadwal perjalanan, ada bus tertentu yang datangnya 5 menit lebih awal dari waktu yang ditentukan, jangan disamakan dengan Indonesia yang terkadang masih ada toleransi waktu keterlambatan), waktu sholat, waktu tidur-bangun (pastikan tidur cukup) , waktu makan (kondisi harus tetap fit selama jalan).
  • Manajemen keuangan. Mencari transportasi yang murah tapi reliable, hostel yang murah dan nyaman. Meskipun terkadang tetap ada pengeluaran yang tidak terduga selama jalan-jalan. Jangan terlalu eman dan jangan terlalu boros.
  • Belajar untuk rajin membaca. Membaca peta kalau gak mau nyasar (kadang baca peta aja masih nyasar), membaca petunjuk penggunaan alat tertentu, misalkan cara membuka pintu subway yang kadang berbeda di masing-masing negara, membaca arah, simbol, dan yang jelas untuk saya yang muslim harus jeli membaca komposisi makanan dengan memperhatikan bahan tersebut halal atau tidak.
  • Menghargai budaya lain. Biasanya kalau naik kendaraan umum kita masuk saja, nge-tap tiket dan selesai, namun di Belanda saya dan kawan saya pernah mengalami kejadian unik, jadi sopir menegur kita karena masuk bus tidak memberi salam pada sopir, seperti “Good morning”. Itu salah satu contoh dari sekian banyak kasus.
  • mungkin masih banyak lagi yang bisa dipelajari.

Sebagai catatan, postingan ini ditulis oleh gadis yang belum menikah, jadi belum banyak punya tanggungan (meski tetap ada tanggungan😀 ), jadi masih berfikir saja untuk memaksimalkan waktu dan kesempatan yang ada.😀  Oke, setelah agak melebar sedikit, mari kembali ke topik sebelumnya terkait kuliah atau jalan-jalan, saya rangkum dari 2 pertanyaan yang sering masuk saja ya😀

Bagaimana mengatur waktunya?

Saya tetap kuliah normal sesuai jadwal, detailnya saya kuliah apa, saya tulis disini untuk winter semester, dan disini untuk summer semester. Hampir bisa dihitung dengan jari berapa kali saya tidak masuk kuliah, meskipun disini mau ikut kuliah atau tidak terserah (berbeda dengan di Indonesia yang prosentase kedatangan harus 80%). Saya hampir tidak pernah meninggalkan kelas lab dan project.  Saya pernah ijin dua mata kuliah tidak masuk, saat itu masih awal-awal perkuliahan (introduction), karena saya sudah pesan tiket ke Italia sebulan sebelumnya (meskipun sebenarnya tidak ijin pun tidak apa-apa). Kebetulan sekali mata kuliah yang saya ambil di semester musim dingin dan musim panas tidak ada di hari Jumat, jadi hitungannya Jumat, Sabtu dan Minggu saya free Kadang ada jadwal kuliah Senin sore, kalau saya pulang ngetrip senin pagi, maka sore saya tetap datang untuk kuliah. Kalau jadwal ngetrip sore/malam, dan pagi ada jadwal kuliah, ya tetap kuliah dulu.

Karena disini saya mahasiswa exchange non-degree (tanpa gelar) dan sistemnya transfer kredit (nilai kuliah disini ditransfer ke universitas asal, ITS), jadi saya tidak perlu mengambil ECTS penuh yaitu 30 ECTS seperti mahasiswa full degree.  Sebenarnya saya bisa saja hanya mengambil satu mata kuliah di setiap semesternya (karena sudah menyelesaikan 4 semester di ITS)  kalau saya mau dan saya punya waktu lebih banyak untuk jalan-jalan, namun sayangnya niat awal datang kesini tidak demikian. Saya pamitnya sama orang tua kesini belajar, dirumah orang tua berdoa supaya studi saya lancar disini, masak iya saya hore-hore saja. Ya, enggak gitu-gitu banget guys :D Nawaitu, niat belajar. Saya juga sengaja mengambil dua mata kuliah yang sama yang pernah saya ambil di ITS hanya penasaran untuk melihat sisi kurang dan lebihnya. Sistem pengajaran yang berbeda membuat adaptasi cukup berat di awal, karena masih nge-blank saat pertama kali. Dengan seiringnya waktu, makin banyak teman yang bisa diajak diskusi, jadi lebih memudahkan dalam memahami materi.

Karena proses adaptasi itu, makanya saya baru benar-benar merasakan liburan pertama kali untuk travelling saat winter break yang liburnya hampir 3 minggu (setelah itu ujian akhir semester musim dingin). Jadi kurang lebih berikut daftar perjalanan saya selama 10 bulan di Eropa ini :

  • Part 1 – Winter Break 2014 (Libur sekitar 3 minggu, namun saya jalan-jalan selama 2 minggu penuh dan merasakan malam tahun baru di Malaga). Liburan ke Paris dan Spanyol (Barcelona, Granada, Cordoba, Sevilla, Malaga).
  • Part 2 – Winter Semester Holiday (libur setelah ujian akhir semester pertama, lbiur sekitar 2 minggu). Liburan ke Jerman (Berlin) -> Czech Republic (Praha) -> Austria (Vienna) -> Hungaria (Budapest) .
  • Part 3 – Long weekend short trip (ini yang saya tidak masuk 2 mata kuliah dan ijin sama dosen saya, karena masih awal perkuliahan jadi masih belum ada kelas lab dan project, panjang trip sekitar seminggu). Liburan ke Italia (Milan, Venice, Florence, Roma) dan Vatikan.
  • Part 4 – Weekend short trip. Selama 2 hari liburan ke Krakow (kota lain di Polandia)
  • Part 5 – Spring Holiday (libur 5 hari dari kampus, saya liburan ke tempat kawan baik saya yang studi di Estonia, Ria Dhea). Liburan ke Estonia (Tallin)-Baltic dan Finland (Helsinki)-Skandinavia.
  • Part 6 – Katowice (kota lain di Polandia) PP langsung sehari saja.
  • Part 7 – Weekend short trip. Warsaw -> Liburan ke Belanda (Den Haag, Leiden, Amsterdam) .
  • Part 8 Weekend short trip. Warsaw -> Liburan ke Swedia (Stockholm dan Uppsala)- Skandinavia.
  • Part 9 Summer Holiday. Warsaw -> Liburan ke Lithuania (Vilnius and Trakai) dan Latvia (Riga)-Baltic.

Jadi sebenarnya kalau dilihat dari mayoritas waktu yang ada, saya jalan-jalan memang di waktu libur saya. Mulai perjalanan keempat sampai kedelapan (kecuali keenam karena PP) saya bawa leptop, untuk nyicil ngerjakan tugas, ataupun belajar untuk ujian. Dan ini saya dapati juga sama dengan kawan yang lain saat ngetrip ada juga beberapa bawa leptop, masih mengerjakan tugas sampai malam atau dini hari dan kemudian baru tidur. Rasanya memang sangat capek, tapi karena enjoy karena jalan-jalan, capek itu agak sedikit tertutupi. Jadi sebenarnya, apa yang dilihat kita selalu senang-senang difoto itu merupakan bagian ekspresi kita melepaskan penat. No pain no gain. Jadi kalau ada yang bilang udik, harap maklum ya teman-teman, saya sih memang lahir di kota kecil yang saat tahun 2007 Google Map pun belum mendeteksinya, Nganjuk :D Cah ndeso yang ke Eropa (anak desa yang ke Eropa).

This slideshow requires JavaScript.

Berapa biaya yang kamu keluarkan untuk jalan-jalan?

Tergantung negara yang dituju dan tergantung berapa lama kita travelling tentunya. Ini perkiraan kurang lebih saya saja ya, berdasarkan itung-itungan pengeluaran selama travelling (ini itungannya tidak terlalu precise) .Untuk perjalanan pertama itu yang menghabiskan biaya paling besar hampir 800 EUR karena memang hampir 2 minggu penuh, perjalanan kedua sekitar 400 EUR, perjalanan ketiga 400 EUR, perjalanan keempat 100 EUR, perjalanan kelima 200 EUR, perjalanan keenam 50 EUR, perjalanan ketujuh 400 EUR, perjalanan kedelapan 300 EUR, perjalanan terakhir 200 EUR. Biaya paling besar itu di akomodasi dan transportasi, dan tergantung berapa lama kita berada di tempat tersebut. Apalagi kalau liburan saat weekend itu dapat dipastikan penerbangan dan akomodasi sangat mahal. Seperti saat mau ke Belanda, awalnya  pusing melihat harga hostel di Amsterdam saat weekend bisa mencapai 50 EUR semalam, kalau 2 malam bisa dibayangkan bisa 100 EUR habis buat penginapan saja. Memang terlalu beresiko dapat harga mahal saat weekend, namun apa daya bisanya memanfaatkan liburan (selain hari libur spesial) ya saat weekend. Kalau dapat ‘tumpangan’ di negara yang ingin dikunjungi cukup banyak menghemat.

Begitulah teman-teman yang sekiranya bisa saya jawab dan jelaskan😀 Setiap mahasiswa mempunyai beban dan motivasi sendiri-sendiri, sehingga lebih memilih kuliah atau jalan-jalan itu masing-masing orang akan berbeda pandangan. Juga menimbang keadaan kuliah yang berbeda di masing-masing kampus dan jurusan tentunya. Yang penting kewajiban dan tanggung jawab utamanya diselesaikan dahulu. Setelah hak kita diberikan, kita wajib menjalankan amanah tersebut dengan baik (masih ingat kan pelajaran kewarganegaraan saat SD? Menjalankan kewajiban dahulu baru menuntut hak). Jadi secara personal, karena saya masih mahasiswa yang bertugas untuk belajar, saya lebih memilih porsi kuliah lebih besar daripada jalan-jalan, anggap aja jalan-jalan itu bonus. Biarlah hidup itu berwarna, ada lelah kemudian penat lepaslah setelah jalan-jalan. Untuk bahagia, hidup itu memang lebih baik seimbang, intinya tidak berlebihan di salah satu porsinya. Betul demikian kan?🙂

~Musim Panas, Warsawa – beberapa hari lagi menjelang pulang ke tanah air😉

8 thoughts on “Kamu Kuliah atau Jalan-Jalan?

  1. gimana sar rasanya mau pulang?
    *siapa tau dijawab dengan satu artikel blog lagi lol

  2. Alviiiiii…❤
    Hihihi.. boleh banget Alviii, tunggu yaaa sebanyak X orang tanya hal yang sama, baru diposting😀😀😀
    Rasanya masih susah diekspresikan nih, antara kehilangan mau meninggalkan #eyaa dan seneng mau ketemu ortu dan tentunya makanan Indonesia😀
    Anyway ntar ini lebaran kamu pertama kali di Eropa kah Vi?

  3. hahaha selamat bersiap-siap sar😀
    kedua sih… tapi tahun ini lebih sepi dibanding yang dulu. hikshiks.

  4. Makasi ya Alvii❤ , rasanya gimana gitu kamu bilang "selamat bersiap-siap" Semoga di bandara Chopin nggak mewek aja ya ini😀
    Pukpukpuk Alvi, bentar lagi kelar, semangaattt \^_^/ semoga lancar yaaa..😉

  5. huahahaha lhaaa maksudku selamat packing2 gitu.. tapi bolehlah sekalian persiapan hati #eh kalo mo mewek inget2 makanan indo sar😀
    aaaaaaaaaaaaaaaa aaamiiin aaamiiin!!❤

  6. LoL iya nih sampai belum tega untuk menyelesaikan packing LoL
    Bener tuh Vi, sip sip sip sudah terekam mau makan apa saja setelah sampai bandara Indonesia haha😀

  7. Always proud of you mbak❤ bisa membagi waktu dengan baik dan bisa mencari pengalaman seluas mungkin. The best deh mbak as always, asik, miss you soooooo

  8. @Nabilla : Thanks for your compliment ya Bil🙂
    Actually, that is too much for me, I am still nothing. You can be better than me for sure, Bil.
    Masih muda dan punya passion yang tinggi bertalenta pula, semoga kedepannya semakin lancar ya Bil.
    BTW aku suka tulisan kamu “I’m Back”, ditunggu cerita selanjutnya ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s